Saturday, November 25, 2017

header web2

Latest

Sudah genap 7 tahun saya bekerja di Manulife sebagai agen dan Manager. Saya pernah membahas bagaimana pintarnya klien saya memilih produk yang cocok untuk perlindungan keluarganya. Sebagian besar mereka memilih produk berdasarkan artikel produk yang ada di dalam web portfoliokita.com dan mereka menanyakan preminya. Kemudian tahap selanjutnya mereka berdiskusi dan menimbang bersama pasangan. Setelah mereka memutuskan mereka menghubungi saya dan mengatur waktu ketemu untuk tanda tangan formulir pendaftaran asuransi jiwa.

Setelah beberapa tahun kemudian, memang terlihat yang betul-betul memahami konsep perencanaan keuangan keluarga dengan baik, dan beberapa klien mendaftarkan berdasarkan keinginan sesaat, tanpa disertai pengetahuan yang cukup.
Sehingga sayangnya asuransinya diberhentikan di tengah jalan.

Biasanya mereka memberhentikan karena

  1.  Ada produk atau perusahaan lain lebih menarik
  2.  Kondisi Keuangan

LALU dibalik keputusan memberhentikan pembayaran premi asuransi, siapa yang paling dirugikan?

Jelas kliennya! Karena tujuan awal tidak tercapai.

Kerugian orang yang menghentikan perlindungan asuransi di tengah jalan.

  1.  Rugi Uang
  2. Rugi Tenaga
  3. Rugi Waktu

 

TAPI sebetulnya yang paling terparah adalah rugi Waktu. Kalau Uang masih bisa dicari lagi, dan Tenaga masih bisa dipulihkan. Tapi kalau Waktu? Waktu yang terlewat tidak bisa diulang.

 

So, saran saya, tolong pertimbangkan dengan baik keputusan Anda untuk mendaftar asuransi atau program keuangan lainnya, karena semua butuh komitmen dan konsistensi.

 

 

Untuk membantu pengambilan keputusan jangka panjang ini, Anda butuh saran dan analisa dari agen yang professional terlebih yang berpengalaman. Bisa saja Anda Tanya kepada saya dan berdiskusi dengan saya atau tim saya, pilihan jatuh kepada Anda, tapi ingatlah dua hal yang pasti.

 

SIAPA yang akan membayar preminya seterusnya?

ANDA!

SIAPA yang akan menerima manfaatnya?

ANDA!

 

Siapkah Anda berkomitmen untuk masa depan Anda atau keluarga? 

Category: Latest

Aih Irit?

Kayaknya norak mau ngebahas masalah irit.  masalah gengsi niyy hehehe.

Biarlah. Daku penulis nya gak gengsi kok. Ngapain gengsi tapi ujungnya banyak utang dan ga punya tabungan?

Berawal dari Revi yang membeli buku keluarga irit. Lucu sekali bukunya dalam bentuk komik dan bisa mendidik anak menjadi pribadi yang menghargai sumber daya. Baik itu sumber daya alam maupun sumber daya Dompet.  :)

Revi dan bunda berlomba membaca buku ini. Dan saling mengingatkan untuk menerapkan berbagai tips hidup irit.

Saya senang Revi sudah punya kesadaran untuk prihatin dan berusaha hidup sederhana. Walaupun sebenernya hal ini sangat kontradiksi dengan papanya. Papanya kadang ngomel  kalau saya berusaha irit terhadap pengeluaran.

Bagi papa, semua kebutuhan Revi harus dipenuhi dengan baik dan kualitas bagus. Kadang harus bermerek. Sedangkan Saya selalu mengajarkan kepada Revi untuk mensyukuri semua yang dimiliki dan diterima.

Oh iya saya irit bukan berarti penghasilan saya minim.

Tapi saya berusaha melatih diri dan Revi untuk hidup sederhana dan apa adanya.

 

Kalau bisa banyak menabung kenapa harus dihamburkan?

Dan terlebih penting. Kalau saya bisa irit saya bisa membantu banyak orang di sekitar saya.

Bagi saya irit tidak sama dengan Pelit.

 

Irit kalau dalam bahasa Inggris adalah Cheapskate.

Ternyata di luar negri sana banyak orang yang berusaha irit loh. Dan sangking extreme nya mereka punya tips aneh  yang saya juga ga mau melakukan nya. Karena bagi saya irit ada batasnya euy. Kalau mau lihat versi irit nya, bisa nonton  seri  Extreme Cheapskate di youtube.

Mmmm, saya perhatikan kalau orang di Indonesia terutama di Jakarta, banyak orang tidak berusaha irit. Baik itu irit energi, sumber daya maupun irit uang. Betul-betul konsumtif loh. Yang lucu kadang dia penghasilannya minim tapi bisa beli Android. Atau masih bisa ajak keluarga setiap minggu ke restoran fast food di mall.

Itu mah kelas kroco ya?

Yang kelas middle up ceritanya lain dong. Mereka sanggup menghabiskan Rp 100.000 per hari untuk ngupi2 atau sekedar hang out di kafe bareng teman.

Rp 100.000? Mungkin makan buat dua orang dah ludes.

 

Sama kok sama saya

Hahaha

 

Kadang kalau urusan perut. Suka lupa ama program irit.

 

Yang lucu saya dah berusaha irit dan mengatur keuangan sedemikian rupa supaya tidak boros. Tapi diujung hari saya sendiri yang memboroskannya. Ancurrrr

 

hahahaha

*pembaca ngakak dewwwh

 

So.

Jadi irit adalah bagian dari Financial Planning?

Iya dong ayah, bunda!

 

Tapi ingat ya. Hanya dengan irit. Anda tidak bisa kaya.

Irit harus dibarengi dengan Investasi

 

Uang yang Anda irit jangan ditaruh di bank terus. Akan kemakan inflasi dong. Tapi investasi kan uang Anda. Supaya tujuan finansial Anda tercapai.

 

Syarat Invest yang aman adalah sbb:

1. Perusahaan Oke

2. Produk Oke

3. AGENNYA Oke

 

So. Berani irit? Ya berani Invest di asuransi Manulife ya! Mari Ayah bunda. Saya bantu ya.

Ih norak deh. Pake promo segala.

Hahaha.

 

Tapi serius nih. Ditunggu telp atau WA nya yeee.

 

Cheers,

 

Devi Dimitra Maksum
Unit Manager J. Gamma Fortuna
Tel/WA. 08551027107

Email: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

 

Category: Latest

Di bulan Februari 2013, Manulife mengadakan Kongres Liga Financial Planner di Senggigi Lombok. Saya termasuk yang terpilih untuk berangkat ke acara nasional ini. Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih kepada klien-klien dan agen-agen yang membuat saya terpilih ya!


Dua hari berkutat dengan meeting, dan shopping, akhirnya saya berkesempatan untuk berlibur sendiri, alias backpacker-an.

Kali ini saya memilih destinasi Gili Trawangan, yang kata orang bagus banget.. Oh iya, dengan artikel ini, semoga pembaca bisa memilih Gili Trawangan sebagai destinasi liburan Anda.

Sebulan sebelum acara, saya sudah surfing, dan tanya sana-sini mengenai berbagai tips. Dalam merencanakan liburan, Anda harus memperhatikan beberapa hal berikut:

1. Tempat Menginap (agoda.com)
2. Transportasi (ini dibutuhkan banyak survey)3. Makanan
4. Kebiasaan orang disana


Saya menyusun perjalanan untuk 2 orang, karena yg berhasil dibujuk cuma Jeannie, teman Manulife yang sesama Manager juga.

Kendala yang luar biasa, adalah memprediksi biaya transportasi. Ternyata Jarak antara Senggigi dan Pelabuhan, lumayan jauh. Blum lagi, jarak antara Bandara Internasional Lombok dan Mataram. Halah! Alhamdulilah, sebagian besar saya sudah baca dari pengalaman backpacker lainnya. Jadi sedikit-sedikit kebayang.

Transport dari Jakarta-Lombok adalah pesawat yang dibiayai oleh Manulife tempat kami bekerja. Lahhh kan kami kesana dalam rangka kongres!

Day 1

Hari pertama backpacker, saya menginap di Sunset House Hotel, Senggigi. Di hari ini, kami berpisah dari rombongan LFP Manulife, di Restoran Taliwang Irama. Siang jam 1, kami berencana mengunjungi Musium Mataram di jalan Panji. Caranya? Telpon Taksi lah!</p>


Di Mataram, Taksi bisa ditelpon. Dan dengan Blue Bird, meluncurlah kami ke Musium. Supir taksi menyarankan kami untuk berhenti melihat pura di Lombok. Kami pilih yang sejalan arah Musium, dan sampailah kami di Pura Meru. Disitu sepi deeeh, padahal hari Minggu. Tidak ada wisatawan lain, kecuali kami berdua. Dipandu juru kunci, kami diberi kesempatan untuk melihat pura.

Sementara kami menunggu, koper2 kami tinggal dalam taksi. Dan taksinya menunggu kami deh. Taksi mengantar kami ke Musium, taunya tutup bro! sebel. Tapi mau bilang apa coba, ya udah, kita cari tempat lain. Supir taksi menyarankan untuk pergi ke pasar seni sayang-sayang. Jauh deh, dan mengecewakan. Pasar seni-nya sepiiiiii... pembelinya cuma saya dan Jeannie. Barang2nya mahal deee.

Maklum backpacker, ngirit! Saya cuma beli gelang 2 buah.
Kami sempet protes ke supir taksi, mengajak kami ke pasar seni, yang mahal dan jauh! Akhirnya kami memutuskan untuk check-in di hotel. Hotel di daerah Senggigi, dan kami pun pergi ke Sunset House Hotel. Total ongkos taksi = Rp 125.000 (muter-muter gak jelas di Mataram dan kembali ke Senggigi).

Perkiraan saya, kalau Mataram ke hotel Sunset House Hotel, naik taksi sekitar Rp 30.000 aja, tapi karena saya muter-muter, jadinya lumayan mahal.

Sampe di hotel, check in, kami ditempatkan di seberang jalan raya!

Hotel sebetulnya di pinggir jalan raya Senggigi, dan tepat berada di bibir pantai. Tapi hotel itu mengembangkan usahanya, dan kamar-kamar barunya di seberang jalan raya. Bayangin aja, nyebrang! Kamarnya bagus, dan masih baru. Kamar mandi bersih. TV LCD jenis baru.. sayangnya, TV-nya gak ada channel dan gak ada antena. DONG!!! *ngakak

Saya dan Jeannie beneran ngakak abis! TVnya sih keren, tapi gak bisa ngeluarin gambar! Kami kembali ke tujuan utama, kami kesitu dalam rangka liburan dan santai, jadi gak dapet TV gak papa deh. Akhirnya, sejak jam 4.30 sore, sampe jam 7.30 malam, kami berdua nyebrang ke sisi hotel yang dekat pantai, bersantai duduk di gazebo sambil posisi tiduran, dan menatap memandang pantai sepuas-puasnya sambil ngobrol! Santai abisssss.. Enjoy the time!

Mulai lapar, kami jalan kaki di sepanjang jalan, cari restoran atau cafe. Boro-boro restoran, kami malah nangkring di warung Sate ayam. Menu makan malam sederhana, hanya makan 2 porsi Soto Ayam dan 1 porsi Sate Ayam. Kenyang deh, hanya habis Rp 40.000 berdua! Irit kan?

Balik ke kamar jam 10 malam, kami siap-siap bobo. Besok pagi akan pergi ke Gili trawangan.

Malam itu, kami masih bingung, bagaimana harus ke pelabuhan. Mau naik taksi, ternyata harus naik cidomo di dalam pelabuhan. Diperkirakan harga taksi sampai Rp 100.000. Kami mulai berhitung:

ongkos taksi = Rp 100.000
ongkos boat nyebrang = Rp 20.000 (berdua)
cidomo ke pelabuhan = Rp 30.000

== Rp 150.000

pada beberapa blog, diwanti-wanti agar sangat berhati-hati dengan calo di pelabuhan.

Karena kami belum tahu situasi, kami memutuskan untuk ikut shuttle bus yang ditawarkan oleh hotel.

ongkos shuttle bus 1 orang = Rp 75.000
kalau berdua = Rp 150.000
sudah termasuk ongkos boat ke pulau.


Resepsionis bilang, kalau shuttle bus akan mengantar sampai pelabuhan, dan tidak perlu naik cidomo lagi. (ternyata bohong pretttt)

Kami memesan shuttle bus untuk 2 orang, dan mereka menjemput jam 8.00 pagi.


Day 2

 

Pagi-pagi, dijemput shuttle bus, terkaget-kaget lihat kondisi shuttle bus-nya yang mengenaskan. Mobilnya L-300, dah tua deh, joknya aja ancur.. hahaha... saya dan Jeannie ngakak-ngakak.

Ternyata jemput beberapa peserta di areal hotel Santosa. Dan disitu cukup lama nunggunya. Ada 6 peserta yang harus dijemput. 2 diantara mereka bapak-bapak orang Indonesia. Masih pada jaim lah.

Sangking lamanya sekitar 15 menit, Jeannie dan saya turun dari mobil, dan foto-foto. Mungkin bule-bule juga bingung, mobil jelek gitu difoto.. aneh! Sambil nunggu kita ngobrol dengan petugas tour-nya, dan kita tanya-tanya mengenai sewa mobil disitu. Soale kami harus memikirkan transportasi untuk pulang dari pelabuhan Bangsal ke Airport untuk keesokan harinya. Dan kami gak mau naik shuttle lagi. Akhirnya tawar-menawar deh, dapatlah harga Rp 270.000, naik Avanza baru, beserta driver dan tiket boat pulang dari pulau Gili.

Jago deh si Jeannie nawarnya! Saya kebagian tugas bayar aja deh.


Ketika Pesertanya dah lengkap, meluncurlah ke pelabuhan Bangsal. Taunya sampe disana, kita belum betul-betul sampe di pelabuhan. Mateng! Lucunya kita disuruh nunggu di restoran, supaya beli makanan kali ya? Dan digiring ke pelabuhan yang berjarak 200m-an. Dasar kami males bin males, akhirnya kami naik cidomo juga. Dan bapak-bapak dari shuttle bus barengan satu cidomo deh. Lumayan bayar Rp 20.000 aja.

Oh iya, sejak saat itu, kami sesama backpacker, saling menjaga. Apalagi saya dan Jeannie, termasuk ibu-ibu yang sok backpacker. Kebayang dong rempongnya!

Pas naik public-boat, orang Indonesianya cuma kita berempat. Berasa lagi pergi kemana gitu deee. hahahaha.. :)

Perjalanan memakan waktu 30menit saja, mungkin saja lebih. Tapi gak kerasa deh, soale pemandangan indah banget selama perjalanan.

 

Transportasi ke Gili Trawangan

 

Saya ini termasuk phobia laut, tapi disitu, sama sekali gak phobia, yang ada cuma rasa gak sabar sampe! Belum sampe di Pulau Gili Trawangan, saya sudah teriak kegirangan. Dari kapal terlihat pantainya biru sekali, dan indah.. haissss.. mantaps.

Turun dari kapal, kami langsung cari Flush Bungalow. Dan kami taruh backpack di kamar. Flush Bungalow lumayan bersih dan bagus, sayangnya cuma punya 2 bungalow. Sisanya hanya kamar kayak kost-kost-an. Banyak sih yang bilang, ngapain kita cari kamar yang indah-indah, kalau cuma buat tidur. Saya dan Jeannie lebih mementingkan kenyamanan, tapi juga harga yang terjangkau. Maka flush bungalow pilihannya.

 

Tidak direkomendasikan untuk backpacker, soale kemahalan. Di Pulau Gili Trawangan ada kamar lebih murah kok. Flush Bungalow per malam Rp 400.000.


Kami memutuskan untuk bersepeda ke arah kiri Flush Bungalow, ceritanya mau keliling pulau, kami dibilangin jangan lewat tengah pulau, lewat pinggir pantai aja. Sewa sepeda Rp 25.000 per hari, tapi sepedanya Jeannie gak ada rem belakang. :)

Kami bawa bekal, 1 bungkus nasi rames, dan 2 botol kecil aqua. Tentunya bawa BB dan Android buat foto-foto.

Waktu bersepeda, sudah meninggalkan bagian crowded dari pulau, kita lewat di tepi pantai. Tiba-tiba menemukan pohon keren di tepi pantai, pokoke scene-nya bagus bangetss.. hiks! Kita foto-foto disitu, dan makan siang disitu. Bekalnya dibuka. Hampir 30menit kita menatap pantai dengan keindahannya.. Perfect Spot number #1!




 

Kami melanjutkan sepedaan, tapi balik ke arah hotel lagi, karena di-bbm oleh teman kami yang ada acara juga di Villa Ombak. Sudah bersepeda kesana, ternyata teman kami gak mau diajakin muter naik sepeda. Alhasil kami melanjutkan perjalanan dengan bersepeda ke arah yang berbeda.

Banyak pohon-pohon rendah di tepi pantai, dan kami menepi sebentar. Seperti biasa sambil bbm-an, kami neduh di pohon tepi pantai. Di sini foto-foto juga, tapi bukan perfect spot sih, tetep aja keren.


Melewati Pondok Santi, keren banget hotelnya, kami bertemu teman seperjalanan shuttle, 2 orang bapak-bapak, mereka baru saja selesai berenang di pantai. Badan basah kuyup, dan bersepeda pula. Mereka bilang, ada spot sunset di seberang pulau, dan mengantar kita sampai disana.

Di pantai yang khusus Sunset, ada tempat melihat sunset untuk duduk-duduk di atas tebing. Berfoto disitu kurang keren, karena bukan waktunya sunset. Akhirnya saya dan Jeannie turun ke bawah, dan ternyata pantai itu airnya tenang, tidak berombak. Bagaikan kolam ikan yang besar sekali. Dangkal dan airnya hangat. Waktu kedua teman kita bersepeda kembali ke hotel, mereka mau snorkling di sisi pantai yang berbeda. Jeannie dan saya mulai beraksi. Sambil spa alami di situ. Berendem sambil main BB, norak banget. Nyanyi-nyanyi dan bercanda ngakak-ngakak. Perfect Spot number #2.


 

Meneruskan perjalanan dengan berbasah-basah. Karena memang tidak bawa baju ganti euy. Dan mulailah di jalanan berpasir. Disini kita gak bisa bersepeda.. sebel. Tapi ternyata sambil nuntun sepeda sejauh 3km, kami menemukan pantai lain yang cantik bener.. dan tentunya landai tanpa kerang2an yang banyak. Disinilah kami narsis foto-foto, dan nyemplung dikit.. basah lagi deeeeeh! Perfect Spot number #3.




Perjalanan masih jauh, jalanan tambah rusak.. dan terakhir kami menemukan perfect spot untuk Snorkeling. Tapi saya gak turun disitu deeeh. Dan akhirnya kami menemukan jalanan bagus lagi, tentunya itulah Perfect Spot number #1. Tempat pohon cantik pertama itu loh.. berarti berakhir deh sepedaan-nya... pulaunya cuma segede itu.

Kalau jalanan gak berpasir bangetss.. dan bagus smua, pastinya bisa dikelilingi dalam waktu 1 jam. Tapi saya dan jeannie mengelilingi-nya dalam waktu 3jam pretttt..

So, itulah kegiatan menyenangkan yang kami lakukan selama di Gili Trawangan. Betul-betul kerennnsss.. saya pengen ngajak Revi, Sam dan Noni kesini, spot yang indah dan menyenangkan. Apalagi spot nomer 2, bisa berlama-lama disitu deh.. :)

Pulang ke hotel, ganti baju renang, dan kami ber-snorkeling di depan hotel saja, soale dah cape kalau pergi ke tempat yang bagus2 tadi. Nyatanya di deket hotel, airnya keruh, walaupun biru juga. Dan kami snorkeling sudah dekat waktu Sunset. Gak kekejar lihat sunset di Perfect Spot #2. Apa boleh buat.. cape bro!


Malamnya kami makan malam di pinggir pantai, disitu banyak restoran sepanjang pantai, jadi pasti bisa menikmati deburan ombak di malam hari. Makanan harganya rata-rata, disitu juga ada ATM Mandiri, CIMB, BNI, BII.. yang gak ada, ATM BCA. :) Saya dan Jeannie, jalan-jalan dan nongkrong di Cafe sambil dengerin Live Band sampai jam 12 malam, matanya dah beratttt... buru-buru balik deee.



Day 3


Sengaja saya bangun pagi, sebelum matahari terbit. Dari kamar hotel, saya hanya jalan sekitar 10meter untuk mencapai bagian pantai. Saya tunggu-tunggu, gak keluar juga tuh matahari.. sedih deh, ternyata matahari ketutup awan.

Siap-siap kembali ke Lombok. Dengan boat jam 8 pagi. Kalau Anda sudah pesan shuttle kembali beserta tiket perahu, pastikan tidak terlambat ya! Saya dan Jeannie terlambatttt... mateng.. dan sudah ditinggal boat-nya. Kami disuruh beli tiket baru, akhirnya naik kapal lain. Untungnya, tanpa tunggu lama, kapal sudah penuh dan berangkat ke Lombok.

Pulang, sambil mengucapkan selamat tinggal.. bye Gili.. I'll be back with my family!

Sesampainya di pelabuhan Bangsal, kami harus ke restoran tempat Anjani Tours mangkal. Karena mobil sewa kami sudah menunggu disana. Iseng aja nawar Cidomo Rp 10.000, eeeh dapet. Lumayan..

Di parkir mobil, kami telpon teman seperjalanan, menawarkan ikut naik mobil yang kami sewa, dan ternyata mereka blum berangkat shuttle-nya. Akhirnya mereka nebeng ke mobil kami deh. Dalam perjalanan ke Airport, mampir makan siang di restoran Murah Meriah. Enak benerrrr... Harganya saya gak tahu, soale dibayarin oleh temen kami sih.

Setelah makan siang, kami sempatkan mampir di desa Sasak. Harus menuju ke pantai Kuta sih, tapi gapapa, sambil melihat desanya seperti apa.  Disitu kami betul-betul masuk ke dalam rumah, dipandu oleh warga setempat, diceritakan mengenai rumah tersebut dan maknanya.

Rumah Sasak, dibuat atapnya rendah, agar setiap orang yang akan masuk harus menundukkan kepalanya dalam-dalam. Maksudnya agar tamu dan penghuni rumah tidak sombong. Penghuni rumah tersebut hanya para perempuan, para lelaki tidurnya di luar rumah, di teras tepatnya. Rumah terbuat dari tanah liat yang dicampur oleh kotoran sapi. Kotoran sapi sebagai perekatnya. Tapi gak bau kok, soale saya sempet masuk ke dalam rumah. Yang bau, di kandang sapi-nya deh!

Hanya sekitar setengah jam berada di desa, kami memberi sumbangan sekedarnya untuk desa. Dan berangkat menuju airport.


Selesailah perjalanan saya dan Jeannie.

Saya sering lihat beberapa video review mengenai Gili Trawangan dan Lombok, mereka bilang Lombok tidak patut ditengok. Hadoww.. daripada keluar negri, pergi ke Pattaya atau Puket, mendingan kesini kaliiii... disini bagus bener deh. Buat saya yang dikelilingi macet, dan rutinitas sehari-hari, Gili Trawangan merupakan PERFECT GETAWAY!






Category: Latest

Bunda, Terima Kasih sudah daftarkan Revi sekolah

Revi mengucapkan kata-kata itu dengan ketulusan dan kepolosan seorang bocah kecil. *Saya jadi terharu

Revi(anak saya) sekarang sudah berumur 6 tahun. Tidak terasa waktu berlalu, dari dia masih bayi, dan sekarang beranjak ke usia sekolah dasar. Saya merasa bahagia bisa menyekolahkan Revi di sekolah idamannya, dan dia memang kepingin sekali sekolah disitu. Alhamdulilah, dengan penuh perjuangan selama tahun 2011, saya kumpulkan sedikit-sedikit uang pangkal untuk masuk ke SD.

Waktu pertama kali, saya jadi agen Manulife Financial, saya terkena shock-therapy yang hebat, dan ternyata sangking hebatnya, bisa mengubah gaya hidup saya. Alhamdulilah, sebagian kecil dari tujuan saya sudah tercapai karena shock-therapy tersebut.

Inilah shock-therapy yang dilakukan oleh Manulife dan Manager di atas saya (Dini).

Read more: Dana Pendidikan Shock-Therapy

Category: Latest

Sori ah, artikel ini tidak berujung mengenai review produk asuransi, saya ingin bercerita mengenai perjalanan saya ke Shanghai dan Beijing, dan bagaimana saya mencapainya.

Divisi Raya Manulife, di bawah naungan bu Nancy, mengadakan kontes Mini Conference ke Shanghai-Hang Zhou. Dengan target sebagai berikut, dari awal Januari 2011 sampai akhir September 2011, kami diharuskan mempunyai 90.000 NAC, atau sama dengan mengumpulkan premi sekitar Rp 150juta dalam 9 bulan itu. Nah, saya berhasil mencapai target di bulan Juli 2011, 2 bulan lebih awal.

Serunya, kontes ini diadakan berbarengan dengan cabang lain dalam Divisi Raya, alhasil ada 72 orang yang berhasil mencapai target tersebut, dan berangkat menuju Shanghai.

Saya mengadakan perjalanan pribadi ke Beijing bersama teman saya, Dini Indah M. Oh iya, Dini adalah manager yang merekrut saya, jadi posisinya di atas saya. Dini ini adalah teman SMP saya di SMP Perguruan Cikini, tepatnya teman sebangku saya di kelas III-1. Sejak saya kuliah, kami sudah bercita-cita melakukan perjalanan ke luar negri bersamaan, yang akhirnya pada saat kuliah, Dini pergi ke Sidney Australia sendiri, dan saya juga ke Sidney Australia sendiri, tapi kita tidak berbarengan. Setelah hampir 15 tahun kemudian, kami baru bisa bersama-sama berangkat ke luar negri, dan tentunya GRATISSS.

 

Read more: My Trip to Shanghai and Beijing

Category: Latest

banner termlife

CONTACT INFO

Devi Dimitra Maksum
Unit Manager J. Gamma Fortuna

-- term life specialist --

 

Email: devidimitra@gmail.com
Phone/WA: 08551027107
Pin BB: 519747D0

Nomor Lisensi AAJI = 11305385

 

 

Video Portfoliokita

Klik link di bawah ini untuk lihat VIDEO penjelasan dari materi-materi di Web Ini.

ME AND MY CLIENTS

Photo Flipbook Slideshow Maker